Abu bakar Baasyir Ditangkap, Diduga Terkait Teoris Di Aceh ?

Abubakar Baasyir Ditangkap, Diduga Terkait Teoris Di Aceh ?

Tim Detasemen 88 Antiteror Mabes Polri menangkap Abubakar Baasyir, Pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Solo. Penangkapan itu dilakukan Senin (9/8) pagi di Banjar, Jawa Barat. Mabes Polri telah membenarkan penangkapan Abu Bakar Ba’asyir. Sebelum ditangkap, yaitu Minggu (8/8) pukul 20.45 hingga 22.30, Abu Bakar Ba’asyir sempat memberikan ceramah di Masjid Agung Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia memberi ceramah di hadapan 300-350 jemaah Ansharut Tauhid. Ba’asyir ditangkap di Banjar, Jawa Barat, bersama sebelas orang lainnya ketika dalam perjalanan pulang menuju Solo menggunakan Toyota Kijang bernomor polisi AD 8491 UB. Saat itu Ba’asyir baru memberi ceramah di Masjid Agung yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Nurussalam, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Ba’asyir saat ini tengah menjalani pemeriksaan di Kemudian pukul 08.00, Ba’asyir ditangkap ketika mobilnya melewati Polresta Banjar, Jawa Barat. Menurut sumber Datasemen Khusus 88 yang enggan menyebutkan namanya, pihaknya sudah lama menguntit Ba’asyir. Sedangkan istrinya masih berada di Banjar.

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Edward Aritonang, menyatakan, penangkapan Amir Jamaah Attauhid (JAT), Abu Bakar Ba’asyir, dilakukan karena keterlibatan Ba’asyir dalam kamp militer Aceh. Ba’asyir diduga berperan aktif dalam menyiapkan rencana awal kamp militer di Aceh. “Rangkaian keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir dari hasil penyelidikan tersebut antara lain berperan aktif dalam menyiapkan rencana awal di Aceh,” ujar Edward saat jumpa pers di Ruang Rapat Utama (Rupatama) Mabes Polri, Jakarta, Senin (9/8).

Beberapa peran Ba’asyir dalam kamp militer Aceh, ungkap Edward, antara lain menunjuk Mustaqim sebagai Qaid, menunjuk Mustofa alias Abu Thalit sebagai pengelola latihan, dan menunjuk Dulmatin sebagai penanggungjawab lapangan. Ba’asyir, ujar dia, juga mendapatkan laporan rutin dari pengelola lapangan atas kamp militer Aceh tersebut. Selain itu, Edward mengatakan, Ba’asyir merestui dan mendanai kamp Aceh. Hanya, tentang berapa jumlah dana yang berhasil digalang oleh Ba’asyir, disebutkan Edward masih dalam penyelidikan.  Edward mengatakan telah melakukan interogasi awal kepada Ba’asyir. Hanya, untuk kepentingan penyidikan, Edward enggan menerangkan lebih lanjut apa hasil interogasi tersebut.

Menuru berita lain yang beredar, Abu Bakar Ba’asyir ditangkap oleh Densus 88 karena pengakuan anak buahnya. Dari hasil pemeriksaan sejumlah terduga teroris, Ba’asyir disebut terlibat dalam pendirian camp pelatihan kemiliteran teroris di Aceh. Ditangkapnya Ba’asyir tampaknya  bukan karena alasan politis. Ba’asyir ditangkap karena pengembangan dari pemeriksaan mereka yang sudah lebih dulu ditangkap di berbagai wilayah setelah kasus Aceh. Ba’asyir diduga  berhubungan dengan Abdullah Sonata. Dari pengungkapan polisi berdasarkan pemeriksaan terduga terorisme, Abdullah Sonata yang membidani pendirian camp tersebut. Ba’asyir adalah Amir Jamaah At Tauhid (JAT). Beberapa anggota JAT ditangkap paska aksi tembak menembak Polri dengan teroris di camp pelatihan kemiliteran teroris di Aceh.

Sementara itu Menko Polhukam Djoko Suyanto menjamin proses hukum terhadap Abu Bakar Baasyir akan dijalankan dengan baik. Djoko menyampaikan hal itu menanggapi langkah Polri yang melakukan penangkapan terhadap sesepuh Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki ini di Ciamis, Jawa Barat, Senin (9/8). “Mari kita ikuti proses hukumnya, yang pasti akan dilakukan dengan baik,” ujar Djoko melalui pesan singkat kepada Republika, Senin (9/8).  Atas penangkapan Baasyir itu, Djoko yakin bahwa polisi telah memiliki bukti yang cukup kuat, khususnya bukti yang terkait dengan jaringan terorisme. “Polisi tentu saja sudah memiliki bukti-bukti yang sangat kuat terkait jaringan terorisme itu sehingga akhirnya Ustadz Abubakar Baasyir ditangkap,” kata Djoko. Oleh karenanya, dia mengajak semua pihak agar mengikuti terus proses hukum yang akan dilakukan polisi terhadap Baasyir.

Berita menarik lainnya yang patut disimak, saat Polri melakukan penangkapan Abubakar Baasyir pada Senin (9/8), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memutuskan tidak berada di Istana Kepresidenan. Hingga Senin (9/8) ini, SBY lebih memilih tetap berada di kediaman pribadinya di Puri Cikeas, Bogor. SBY dijadwalkan melakukan rapat intern di kediamannya itu. Dalam kunjungan kerja SBY ke Bandung akhir pekan lalu, ia sempat mengungkapkan bahwa ada ancaman terhadap dirinya. Dalam satu pekan, SBY biasanya setiap Senin selalu datang ke Istana Kepresidenan di kawasan Monas untuk melaksanakan tugas sehari-harinya. Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kepresidenan Julian A Pasha, mengelak jika ketidakhadiran SBY di Istana itu terkait dengan penangkapan Baasyir maupun adanya ancaman teroris. “Tidak. Tidak ada hubungannya dengan itu,” kata Julian.  SBY, jelas Julian, berada di kediamannya untuk menyiapkan pidato kenegaraan yang akan disampaikan di hadapan DPR dan DPD pada 16 Agustus 2010 nanti.

Pihak Keluarga Mencemaskan

Keluarga pimpinan pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Abu Bakar Ba’asyir belum mendapatkan kabar resmi dari kepolisian mengenai penangkapan Ba’asyir. Namun, pihak keluarga mengakui  Ba’asyir tidak bisa dikontak oleh keluarganya pada Senin (9/8) pagi. Seharusnya, hari ini Ba’asyir kembali ke Solo setelah melakukan serangkaian kegiatan di Jawa Barat. “Saya berkali-kali mencoba menelepon,” kata Abdurrochim, salah satu putera Ba’asyir. Dia juga tidak berhasil menghubungi dengan beberapa orang yang ikut dengan rombongan Ba’asyir. Menurut Abdurrochim, Ba’asyir melakukan perjalanan ke Jawa Barat sejak Jum’at pekan lalu. Ba’asyir bepergian ke Jawa Barat untuk mengisi kajian di Bandung, Garut, Banjar serta beberapa tempat lain. Menurut Abdurrochim, keluarga belum mendapatkan kabar mengenai penangkapan Abu Bakar Ba’asyir oleh polisi di Jawa Barat. “Kami akan mencari kepastiannya dulu,” kata Abdurrochim.

Paska penagkapan Ba’asyir suasana di pondok pesantren Islam Al Mukmin Ngruki, Solo, tampak sepi dan pintu gerbang tampak tertutup rapat.
Sampai saat ini dari pihak Ngruki belum memberi keterangan resmi terkait kabar penangkapan tersebut. Pintu gerbang pesantren masih ditutup rapat baik pintu gerbang yang besar untuk kendaraan maupun pintu kecil untuk pejalan kaki. Ini tak seperti biasanya di mana pintu keluar nmasuk santri itu biasa dibuka. Bahkan pos penjagaan yang biasa ditunggui siswa pun tampak sepi, seperti ada perubahan drastis yang terjadi.
Namun sebaliknya, kegiatan belajar agama para santri di sana juga terlihat biasa saja, tidak ada yang menonjol. Sejak penangkapan Ba’asyir mulai banyak  wartawan berbagai media tampak telah berkumpul di depan gerbang sejak pagi tadi.

TPM:  Ba’asyir sudah lama dibidik lagi

Penangkapan ini sebenarnya diduga sebelumnya. Tim Pembela Muslim telah merasakan isyarat itu sejak beberapa bulan lalu.  “Dendam lama terhadap Baasyir, rupanya belum selesai,” kata juru bicara TPM Mahendrata.  Menanggapi hal itu, Tim Pengacara Muslim Mahendradatta mengatakan isyarat penangkapan Ba’asyir sudah tercium sejak lama. “Itu bau-baunya (penangkapan Ba’asyir) sudah lama,” kata Mahendra.

Menurut pengacara Ba’asyir ini, dirinya yakin Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukmin, Nguruki, Solo, itu, sudah dibidik lagi sejak ada penggerebegan Jamaah Anshorut Tauhid di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Bagi Mahendra dan Tim Pengacara Muslim, penangkapan Ba’asyir pada Ahad (8/8) malam adalah seperti pengulangan penangkapan Ba’asyir beberapa waktu lalu. “Ini pengulangan lagi. Masih ada yang dendam dengan beliau, karena penangkapan yang dulu tidak berhasil,” kata dia. Ba’asyir memang pernah ditahan dan dipenjara. Namun, dijebloskannya Ba’asyir ke penjara bukan atas tuduhan terlibat terorisme, melainkan pemalsuan dokumen imigrasi. Tim Pengacara, kata Mahendra, siap mendampingi Ba’asyir. “Kami selalu siap,” kata dia.

Pengacara Abu Bakar Ba’asyir yang lainnya, Muhammad Assegaf yang tergabung dalam Tim Pengacara Muslim (TPM) mempertanyakan mengapa Ba’asyir selalu dijadikan target oleh pihak kepolisian. “Dua kali disidangkan dalam dua kasus yang berbeda, klien kami terbukti tidak bersalah terkait terorisme,” katanya saat dihubungi Tempo, Senin (9/8) pagi. Menurut Assegaf, dalam dua persidangan tersebut, yang pertama Ba’asyir dinyatakan bersalah memberikan keterangan palsu saat pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). “Itu pun sepertinya dicari-cari saja kesalahannya,” ujar Assegaf. Sedangkan yang kedua, Ba’asyir dibebaskan oleh Mahkamah Agung (MA).

Assegaf menyatakan sudah setahun ini dirinya tidak berkomunikasi dengan Pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki tersebut maupun dengan keluarganya. “Karena kami anggap dia baik-baik saja, jadi tidak ada komunikasi. Sebagai uztad, beliau juga masih memberi pengajian,” ujarnya. Ditanya soal penangkapan Abubakar oleh Tim Detasemen Khusus 88, Assegap mengaku belum mendapat tahu, “Saya sendiri belum dengar soal itu. Baru tahu informasi (penangkapan) dari wartawan yang menghubung saya,” ujarnya. Menurut dia. saat ini TPM sudah bergerak mengumpulkan informasi.

JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR YA!!!MATURNUWUN!!!!

Tentang hendry1234

orang tua:kardi iskandar dan yayuk s r alamat:krajan 2/4 bulakrejo sukoharjo
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s